oleh

Pesantren, Sepakbola dan Kehidupan

Pesantren, Sepakbola dan Kehidupan
(Oleh: Robi’atul Adawiyah)

Di masa modern saat ini, pesantren menjadi salah satu tempat yang menjadi banyak rujukan para orangtua untuk menitipkan anaknya. Hal tersebut dilakukan para orangtua dengan harapan anaknya kelak menjadi orang shalih yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Kerelaan melepas putra-putrinya belajar di pesantren, merupakan wujud sayang mereka kepada anak.

Melalui pesantren, para santri akan dididik sebaik mungkin demi terwujudnya generasi yang akan mengharumkan nama bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Di dunia pendidikan pesantren, santri tidak hanya dibekali ilmu agama saja, namun juga ditingkatkan pada bidang-bidang tertentu lainnya sehingga tidak menutup kemungkinan bagi seorang santri untuk bisa meningkatkan minat dan bakatnya.

Salah satu yang menjadi tren pada masa kini yaitu pada bidang keolahraagaan, terutama di bidang sepakbola. Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang dimainkan oleh sebelas pemain pada setiap timnya di lapangan persegi anjang yang sangat luas. Sepak bola menjadi suatu hal yang tidak asing lagi di telinga kita. Sepak bola menjadi salah satu olahraga favorit yang menjadi suatu rutinitas baik di Indonesia maupun di luar negeri. Cabang olahraga ini banyak diminati oleh berbagai kalangan terutama di kalangan remaja.

Sepakbola awalnya memang hanya populer bagi kaum adam saja. Tetapi kini, tidak hanya kaum adam yang memanikannya, sepakbola juga telah menjadi daya tarik sebagaian kaum hawa. Bahkan tidak sedikit kaum hawa yang bermain sepak bola, lewat sepak bola putri.

Tidak hanya sebatas permainan, dalam sepak bola kita juga bisa belajar banyak tentang kehidupan. Salah satunya adalah kerjasama tim. Dalam permainan ini, kita dituntut untuk saling bekerja sama dengan orang lain untuk meraih gol kemenangan. Begitu juga dengan hidup, kita tidak bisa melulu mengutamakan diri kita sendiri dan memanjakan ego pribadi.

Kekompakan dan kebersamaan sangatlah dibutuhkan dalam setiap sisi kehidupan manusia. Dengan adanya kebersamaan, hal tersebut akan meningkatkan rasa peduli kita satu sama lain. Jika kita telah kembali pada masa Nabi, beliau yang seorang Rasul saja masih butuh bantuan sahabat, apalagi kita manusia biasa.

Dalam kehidupan pesantren, meskipun para santri diharuskan belajar ilmu agama setiap hari, mereka tetap memiliki waktu luang yang akan mereka gunakan untuk refreshing. Berdasarkan pengamatan penulis, kebanyakan dari mereka memanfaatkan waktu luangnya untuk bermain sepak bola. Dari sinilah mereka belajar tentang kebersamaan; pentingnya kekompakan antara satu dengan yang lainnya.

Mereka juga berlatih dan mengembangkan potensi dirinya. Selain itu, permainan yang mereka tunjukkan juga tidak kalah menarik dengan pemain-pemain sepak bola di luar sana. Bahkan kemampuan mereka bisa jadi melebihi kemampuan pemain bola profesional di luar pesantren.

Di pesantren, santri yang memiliki kemampuan seperti ini, tetap dapat meningkatkan potensi dirinya dengan adanya berbagai event pertandingan sepak bola. Mereka dapat melakukan pertandingan persahabatan yang dilakukan antar pesantren sebagai salah satu wujud usaha untuk meningkatkan sportivitas dan potensi menjadi seorang atlet. Melalui ajang-ajang seperti itu, juga dapat meningkatkan tali persaudaaraan dan silaturrahmi antar pondok pesantren.

Selain itu, klub sepakbola santri juga bisa mengikuti berbagai event, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah, Sekolah Sepak Bola (SSB) atau lembaga asosiasi pesantren seperti Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) lewat Liga Santri Nusantara (LSN). Di LSN ini lah bakat sepakbola santri menemukan panggungnya, telah banyak jebolan LSN yang menjadi pesepakbola profesional, salah satunya yang terkenal adalah M. Rafli Mursalim, pemain Timnas U-19.

Tidak hanya santri, di pesantren demam sepakbola juga merambah ulama. Bahkan, ada ulama yang begitu besar kecintaannya terhadap dunia olahraga sepak bola, beliau KH. Abdurrahman Wahid yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur. Seorang tokoh besar Nahdlatul Ulama asal Jombang ini pernah aktif menuangkan pikirannya dan diundang sebagai komentator dalam suatu ajang sepak bola. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa sepak bola tidak hanya ada di kalangan santri, namun seorang ulama atau kiai juga tidak menutup kemungkinan memiliki kecintaan yang besar terhadap sepak bola.

Saat ini dunia sepak bola menjadi perhatian besar bagi Indonesia. Indonesia dari tahun ke tahun selalu melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas para atlet sepak bola. Salah satu hal yang menjadi bukti meningkatnya kualitas sepak bola Indonesia adalah kemenangan timnas Indonesia yang telah diraihnya dalam ajang AFF kemarin, ajang sepak bola yang bergengsi di tingkat wilayah ASEAN.

Pada ajang itu Indonesia berhasil mengalahkan kubu Thailand dengan skor 2-1. Hal tersebut merupakan satu bukti bahwa Indonesia tidak kalah saing dengan negara-negara lainnya. Progress yang dimiliki Indonesia saat ini sangatlah penting untuk terus mempertahankan prestasi yang telah diraihnya, bahkan akan lebih baik lagi jika meningkatkan prestasi di tingkat dunia.

Dengan semakin meningkatnya persaingan di dunia sepak bola, Indonesia membutuhkan calon-calon atlet yang akan membawa nama bangsa ke dunia luar. Atlet-atlet profesional sangat dibutuhkan demi mengharumkan nama bangsa dan negara. Dalam hal ini, santri dapat mengambil peran besar untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia ini.

Mereka dapat menjadi atlet professional. Nilai lebihnya, selain memiliki kemampuan fisik dan keahlian, santri juga memiliki jiwa spiritual dan akhlak/budi pekerti yang baik–diperoleh dari nyantri di pesantren. Hal inilah yang menjadi nilai plus tersendiri bagi santri. Selain itu, dengan adanya dukungan yang besar dan kuat dari ulama atau kiai, diharapkan santri dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia.

Share ke :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *