oleh

Optimalisasi Suporter Santri Nusantara; Resolusi Atmosfir Sepakbola Damai dan Santun

Optimalisasi Suporter Santri Nusantara; Resolusi Atmosfir Sepakbola Damai dan Santun
Oleh: Afif Thohir Furqoni

Ligasantri.com, – Diakui atau tidak, suporter merupakan elemen penting dalam keberlangsungan sebuah klub sepakbola. Tanpa adanya kehadiran mereka di stadion, penjualan tiket dan merchandise dari klub juga ikut menurun. Dampaknya juga terasa pada rating pertandingan dan kualitas sebuah liga sepakbola.

Sebuah artikel dari Football Today News yang berjudul ”Fans and Club Identity” menggambarkan bagaimana suporter memiliki ikatan emosional terhadap klubnya. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, rasa cinta suporter terhadap klubnya semakin besar. Bagi mereka, stadion adalah rumah.

Dengan demikian, harus terdapat hubungan timbal balik antara suporter dengan klub yang didukungnya. Hubungan tersebut semakin erat dengan munculnya simbol-simbol klub sebagai refleksi organisasi suporter yang dibentuk, semisal warna dan desain jersey yang dikenakan oleh pemain. Dalam beberapa kasus, sebagian klub memberikan fasilitas yang cukup kepada suporternya untuk sama-sama mengelola klub yang mereka dukung agar tetap eksis, maju, dan semakin professional.

Dalam kacamata sosiologi, suporter bisa dikategorikan sebagai kerumunan yang diartikan sebagai sejumlah orang yang berada pada tempat yang sama, adakalanya tidak saling mengenal, dan memiliki sifat yang peka terhadap stimulus (rangsangan) yang datang dari luar (Dr.Soeropto:2010). Dalam hal ini, suporter sepakbola sangat peka terhadap stimulus seperti ketika klub yang mereka dukung nyaris mencetak gol, atau saat gol tercipta.

Tanpa dikordinir mereka langsung menunjukkan ekspresi yang sama, yaitu berteriak dan bersorak. Bahkan dalam kerusuhan pun, mereka membantu rekan-rekan mereka atas nama solidaritas walupun mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Di sini kita menyimpulkan bahwa perilaku suporter berpotensi menimbulkan dampak sosial pada lingkungannya, baik yang positif dan yang negatif.

Kita bisa mengambil klub Bali United sebagai contoh klub yang sukses memanfaatkan potensi suporternya dengan baik. Bali United sukses “merumput” di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan melepas saham kepada publik sebesar 2 miliar lembar saham seharga Rp 175 per lembarnya.

Dengan antusias, suporter tim yang dikenal dengan sebutan Semeton Dewata memborong saham tersebut, sehingga permintaan melebihi penawaran alias oversubscribed. Bali United pun sukses tercatat dalam sejarah sebagai klub sepakbola Indonesia pertama yang go public.

Namun, bila sebuah klub tidak jeli merangkul suporter sebagai salah satu aset klub yang berharga, maka besar kemungkinan memicu perilaku negatif suporternya. Taruhlah misalnya tawuran atau tindakan kekerasan antara suporter, pengrusakan fasilitas umum, penjarahan dan lain sebagainya. Tindakan suporter ini tidak hanya berdampak pada klub (yang biasanya terkena sanksi atau denda dari penyelenggara liga), namun juga berdampak pada masyarakat dengan menyisakan rasa takut atau cemas, dan memunculkan stigma negatif dalam benak mereka terhadap kehadiran suporter di tengah-tengah lingkungan mereka.

Dalam hal ini kita bisa melihat beberapa komunitas klub di Indonesia yang sudah mendapat label negatif dari masyarakat atau media atas perilaku yang pernah dilakukan oleh oknum mereka, seperti penjarahan, anarkis, menyanyikan chant yang rasis dan provokatif. Label ini tetap melekat meskipun beberapa di antara komunitas tersebut sudah banyak melakukan perbaikan diri dan melakukan kegiatan positif, seperti bakti sosial, donor darah, pengumpulan dana bantuan bencana, dan lain-lain.

Fenomena di atas seyogyanya diamati betul oleh pihak penyelenggara Liga Santri Nusantara. Penyelenggaraan Liga Santri Nusantara (LSN) memang dinilai semakin professional dari tahun ke tahun. Sehingga kepercayaan dari Kemenpora, dunia sponsor, pihak swasta, setiap tahun semakin meningkat.

Tak hanya itu, LSN dinilai menjadi wadah  talenta-talenta berbakat dari  pesantren, pun sebagai ajang mempraktekkan nilai-nilai yang diajarkan di  pesantren itu sendiri, yaitu akhlakul karimah. Maka hanya di LSN, kita menemukan budaya cium tangan wasit, yang menunjukkan sikap hormat dan kepercayaan kepada wasit.

Meskipun begitu, aspek suporter tidak bisa diabaikan begitu saja oleh pihak penyelenggara. Secara kuantitatif, LSN berpotensi menjadi liga yang memiliki banyak suporter yang mendukung tim mereka masing-masing. Dalam LSN 2018, terdapat 1.024 pesantren yang ikut ambil bagian dalam kompetisi ini.

Kalau kita asumsikan setiap tim memiliki komunitas suporter, berarti  terdapat 1.024 komunitas suporter yang turut meramaikan stadion tempat pertandingan berlangsung. Pihak penyelenggara harus jeli memanfaatkan komunitas suporter ini, tidak hanya untuk ekonomi (menjual merchandise liga), namun juga sebagai upaya membangun citra positif untuk penyelenggaraan LSN.

Karena sebagaimana disebutkan sebelumnya, komunitas suporter di Indonesia kadung mendapat label negatif di mata masyarakat sebab penyimpangan sosial yang mereka lakukan, seperti tawuran, anarkis. Maka dengan memanfaatkan kemunculan komunitas suporter dari pesantren, pihak penyelenggara bisa berkontribusi menghapus label negatif tersebut. Mengapa demikian?

Sebab, suporter LSN berbeda dengan suporter bola pada umumnya. Mayoritas mereka adalah masih santri aktif pada tim pesantren yang didukung. Jadi mereka masih terikat dengan aturan dan norma yang berlaku di pesantren masing-masing. Dan tentu seluk-beluk tindakan mereka juga dianggap mencerminkan apa yang diajarkan oleh pesantren mereka.

Mau tak mau, mereka harus membangun citra yang positif di pinggir lapangan. Bila ada yang berperilaku menyimpang, tentu ada sanksi sosial dari masyarakat plus sanksi yang berlaku di pesantren masing-masing.

 Suporter LSN dinilai lebih solid. Sebab mereka datang dari lingkungan pesantren yang sama dan saling mengenal satu sama lain. Maka tak heran bila mereka terlihat lebih kompak memamerkan kreatifitas masing-masing.

Hanya di kompetisi ini, suporter menjadikan stadion sebagai tempat yang penuh akan lantunan-lantunan syiar agama, seperti membaca shalawat, asmaul husna, serta lagu tashrifan. Kita juga bisa menemukan suporter yang tetap memakai sarung dan peci, dan tempat duduknya juga terpisah antara santri putra dan putri.

Dan Alhamdulillah selama 4 tahun LSN berlangsung, kita tidak menemukan berita atau laporan tentang tawuran antar suporter, atau chant yang rasis dan penuh kebencian. Maka adalah sebuah harapan besar untuk penyelenggara LSN untuk meningkatkan kordinasi dengan pesantren peserta LSN agar juga memberikan perhatian penuh pada suporternya. Dan yang tak kalah penting adalah memberikan apresiasi atas kreatifitas mereka selama penyelenggaraan kompetisi, semisal dengan membuat penghargaan Suporter Terbaik Liga Santri Nusantara.

Ke depannya, suporter santri ini diharapkan juga bisa menyusup ke dalam komunitas  suporter klub Indonesia, dengan niat mengikis perilaku suporter yang menyimpang, dan menampilkan semangat dakwah yang rahmatan lil alamin.

Apalagi kini mulai bermunculan komunitas suporter yang berasal dari elemen santri. Sebut saja K-Conk Santri, Bonek Santri, Bobotoh Santri, Aremania Zona Santri, The Jak Santri dan lainnya. Dengan bergabung di komunitas ini, para santri diharapkan  lebih berkontribusi untuk membangun wajah persepakbolan nasional yang lebih sejuk, damai, dan aman. Wallahu a’lam.

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenep. Kini tinggal di Desa Tobungan Galis Pamekasan.

Share ke :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *