oleh

Muhammad Salah, LSN dan Masa Depan Santri Di Gelanggang Sepak Bola

Ligasantri.com, Sepak bola adalah olahraga terpopuler di dunia, termasuk bagi masyarakat Indonesia. Dimana olahraga ini telah dimainkan berbagai kalangan; mulai di kota sampai di desa, dari rusun sampai pesantren dan yang pakai seragam sampai yang lupa lepas sarung. Ia seakan menjadi ideologi baru, suatu ideologi tanpa memandang perbedaan ras, suku dan agama.

Lewat aksi-aksi para bintang di lapangan, sepak bola mampu menjadi magnet dalam menarik perhatian masyarakat seluruh dunia. Salah satu contoh positif yang lagi naik daun adalah fenomena Mohammed Salah. Selain lihai memainkan bola dan mencetak goal, Mo (sapaan akrab Muhammad Salah) juga merupakan pesepak bola yang taat beragama.

Ia secara tidak langsung telah mengkampanyekan kesalehan seorang Muslim. Mo adalah figur ideal bagi santri dalam memasuki ranah sepak bola serta menebarkan Islam yang rahamatanlilalamin.

Gus Rozin

Berbicara tentang keislaman dan kesalehan, pesantren merupakan institusi yang cukup massif mengawal. Dimana di pesantren juga terdapat segudang potensi lain, diantaranya adalah potensi kebangsaan dan olahraga/sepak bola.

Saat ini jumlah santri mencapai sekitar 4 juta lebih. Mereka berada di puluhan ribu pondok pesantren yang tersebar di 34 Provinsi seluruh Indonesia. Rata-rata para santri ini berusia antara 12-20 tahun, bahkan ada yang sejak usia 6 tahun sudah di pondokkan–dengan harapan mendapat pendidikan (keagamaan) yang baik sejak dini, kerena pendidikan pesantren menggunakan sistem boarding school, intensif 24 jam.

Dengan jumlah dan sistem pendidikan semacam itu, pengembangan sepak bola melalui pesantren–pencarian bibit-bibit pemain–merupakan langkah yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Jika program pengembangan ini bisa dikelola dengan baik dan maksimal, maka sudah pasti akan berbuah manis.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Bapak Imam Nahrowi, sudah sangat tepat melihat pesantren sebagai lumbung pencarian bakat dan pembinaan sepak bola, melalui penyelenggaraan Liga Santri Nusantara (LSN).

Tujuan LSN ini, selain menjadi wadah aktualisasi pengembangan potensi sepak bola santri, juga untuk memberikan tontonan yang menarik kepada masyarakat, sekaligus menyaring bibit-bibit calon pemain sepak bola profesional dari kalangan santri. Sebagaimana juga telah kita ketahui, rupanya ada banyak santri yang telah berkecimpung di sepak bola profesional. Mereka diantara adalah Adeng Hidayat (Persib), Budi Sudarsono (Deltras) dan Ahmad Bustomi (Arema).

Selain mereka, tentu ada alumni LSN dan menjadi striker Timnas U-19 Garuda, Muda M. Rafli Mursalim yang bisa kita banggakan. Ia beberapa kali menjadi pemain penentu dalam kemenangan pertandingan Timnas U-19 di piala AFFU-19 2018 kemaren. Meski belum bisa mengantar Timnas juara, prestasi itu tetap menjadi bukti kalau santri dan pesantren mampu menyumbang atlit sepak bola nasional.

Sumbangan tersebut memang masih belum optimal, tetapi saya yakin, jika LSN ini kita kelola dengan baik, disiplin, tertib dan profesional, tidak menutup kemungkinan banyak pemain muda berbakat lahir dan Indonesia akan mampu bersaing di kancah sepak bola internasional.

Belajar dari negara dengan sepak bola maju, seperti Perancis, Belgia, Inggris, Kroasia, Jerman, Brazil dll., dalam meraih kejayaan sepak bola, mereka sangat serius membina dan melatih generasi mudanya. Untuk itu, LSN sebagai liga pembibitan pemain muda, harus serius dalam melaksanakan turnamen ini. Jangan sampai ada tindakan indisipliner, seperti pencurian umur, pengaturan sekor kemenangan dan atau tawuran.

Mengingat tagline LSN 2018 ini adalah “Dari Santri untuk Sepak Bola Indonesia”, mari kukuhkan niat dan terus berikhtiar dalam menyumbang bibit-bibit pemain nasional yang unggul, berkualitas dan berakhlakul karimah.

Mari kita bawa budaya santri dan pesantren kedalam sepak bola (santun, disiplin dan saling menghargai). Sebab, munculnya Liga Santri Nusantara (LSN) merupakan entitas yang tidak dapat dipisahkan antara sepak bola dan pesantren. Diantara keduanya harus tercipta hubungan yang membangun dan bermanfaat.

LSN ini awal mulanya merupakan inisiatif pondok-pondok pesantren, yang kemudian disambut baik oleh Menpora, Bapak Imam Nahrawi. Oleh karenanya, tentu kita semua sudah sepatutnya beryukur, berbangga dan berterimakasih kepada pemerintah, dalam hal ini kepada Menpora.

Kedepan mengingat banyaknya potensi santri yang luar biasa, baik secara kualitas dan kuantitas yang memenuhi kriteria pembinaan sepak bola. Selain diadakan LSN–setiap tahunnya dan sudah mengarungi 4 kali kompetisi dari 2015-2018–, semoga PBNU dalam hal ini RMI dan didukung penuh Kemenpora bisa membuat program unggulan yang lebih intensif dan jangka panjang serta sistematis, semacam “PESANTREN SEPAK BOLA INDONESIA”, suatu klub sepak bola di lingkungan pesantren.

Gagasan semacam ini, tidak mungkin bisa dilakukan sendirian oleh pesantren dengan kondisi dan fasilitasnya yang terbatas. Maka dibutuhkan dukungan oleh semua pihak, baik dari masyarakat maupun pemerintah, khususnya pihak Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) tingkat Wilayah dan Kabupaten. Terakhir kami berharap semoga pesantren dan santrinya terus maju serta lebih diperhatikan, khususnya dalam olahraga dan sepak bola.

H. Abdul Ghaffar Rozien
Ketua RMI / Ketua LSN 2018

Tilisan ini adalah kutipan pidato sambutan Gus Rozin dalam pembukaan LSN 2018.

Share ke :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *