oleh

Mengenang Gus Dur, Analis Sepak Bola hingga Pertarungan Vs Mike Tyson

Ligasantri.com, – KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dikenal sebagai penggemar olahraga, terutama sepak bola. Analisis Presiden Keempat Republik Indonesia itu juga beberapa kali tertuang di Harian Kompas.

Simak saja salah satu tulisannya soal Piala Dunia 1990. Dia mengkritik turnamen tersebut dalam artikel “Piala Dunia, Eskapisme Berskala Raksasa” di Harian Kompas, 11 Juli 1990.

“Secara keseluruhan, Piala Dunia 1990 menunjukkan kualitas lebih rendah bila dibandingkan dengan dua Piala Dunia sebelumnya,” tulis Gus Dur seperti tertuang .

“Keterampilan individual tinggi ternyata tidak diimbangi dengan seni olah bola dan strategi brilian. Penurunan kualitas di dua bidang itu juga diperburuk oleh penampilan emosional banyak pemain,” tulisnya lagi.

Italia 1990 merupakan salah satu Piala Dunia dengan catatan gol terminim, 2,21 gol per laga.

Ulasan dari sisi emosional juga terlihat dari jumlah kartu merah. Total ada 16 kartu merah, tertinggi untuk seluruh Piala Dunia dengan 24 kontestan.

Di Harian Kompas, Gus Dur beberapa kali mengirim tulisan ketika ada event besar seperti Piala Eropa dan Piala Dunia. Menurut dia, Piala Eropa lebih sulit daripada Piala Dunia.

“Piala Eropa lebih sangar, lebih berat dari Piala Dunia. Kualitas tim peserta putaran-final di Piala Eropa lebih teruji, lebih merata, dan persaingan yang muncul begitu ketat, tajam,” tulis Gus Dur di Tabloid Bola, April 1994.

Selain itu, Gus Dur juga pernah bergurau dan berharap ulama-ulama NU bisa ikut nonton langsung Piala Dunia. Hal itu dikatakan saat PWNU Jatim dan Bursa Efek Surabaya melakukan silaturahim, Maret 1996 atau tiga bulan jelang Piala Eropa.

Ada hal menarik saat acara silaturahim di Gedung PDAM Surabaya itu, Minggu (17/3/1996). Sebagian warga nahdiyin ternyata tak fokus karena pada saat bersamaan dilangsungkan pertandingan tinju antara Mike Tyson dan Frank Bruno.

Dilansir dari Harian Kompas pada 20 Maret 1996, ketika Gus Dur sedang berceramah, sebagian warga nahdliyin tetap saja bergeming menyaksikan pertarungan Mike Tyson melawan Frank Bruno.

“Wah, ini berarti juga pertarungan Gus Dur lawan Mike Tyson,” celetuk warga nahdliyin.

Tak ayal di sela-sela berceramah, Gus Dur dengan nada bergurau mengatakan, suatu ketika ulama NU bisa ikut nonton langsung pertandingan sepak bola Piala Dunia, sehingga bisa mengomentari atau jadi komentator sepak bola.

“Kalau bisa juga menjadi manajer tinju,” ujar cucu pendiri NU itu yang disambut gelak tawa hadirin.

Gus Dur, lahir di Jombang pada 7 September 1940, Gus Dur meninggal dunia pada 30 Desember 2009.

*Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul dengan judul sama.

Penulis : Jalu Wisnu Wirajati

Share ke :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 comments