oleh

Keberlanjutan dan Profesionalisme Liga Santri Nusantara

-Lomba, Santri Gila Bola-1.469 dibaca

Keberlanjutan dan Profesionalisme Liga Santri Nusantara
Oleh: Yudho Sasongko*

LSN, — Diskursus yang sering mengiringi keberlanjutan sebuah liga adalah bermula dari pertanyaan, “Mampukah liga tersebut terus bergulir?”. Jawaban yang muncul merupakan salah satu parameter profesionalisme liga itu sendiri. Liga Santri Nusantara (LSN) sudah empat kali digelar dengan sukses. Kompetisi itu berturut-turut telah memberikan gelar juara kepada empat pondok pesantren dari tahun 2015 hingga 2018. Diharapkan Liga santri 2019 akan segera bergulir sebagai tanda keberlanjutan kompetisi sepak bola santri yang megah ini. Liga Santri Nusantara (LSN) ini termasuk dalam kategori kompetisi pembinaan di usia dini.

Tanpa melibatkan kehadiran pihak sponsor dan masyarakat industri maka akan terasa berat membiayai pembinaan sepak bola usia muda itu. Semakin banyak pihak dan sponsor yang terlibat dan tergabung maka itu semakin baik. Keterlibatan tersebut akan menjadi daya dukung yang kuat dan kokoh terhadap keberlanjutan sebuah liga. Liga Santri Nusantara (LSN) adalah salah satu upaya anak bangsa untuk mendukung PSSI dalam menyiapkan bibit-bibit unggul pesepakbola nasional.

Ada beberapa kompetisi liga yang terlihat terus berkembang dalam naungan PSSI seperti Liga 1, Liga 2 dan Liga 3. Satu lagi kompetisi liga sepak bola yang cukup potensial bagi pembibitan yaitu Liga Santri Nusantara (LSN). Kompetisi ini resmi bergulir pertama kali pada tahun 2015 lalu. Pada dasarnya sistim kompetisi itu memang lebih bagus digunakan daripada model turnamen untuk sebuah pembibitan pemain usia dini. Dengan sistim kompetisi pemerataan kesempatan dan repetisi permainan cukup tinggi.

Melihat prospek jangkauan pembibitan dan cakupan wilayah yang begitu luas hingga pedalaman, maka diharapkan Liga Santri Nusantara (LSN) akan terus bergulir. Untuk menuju profesionalisme Liga Santri Nusantara (LSN) harus melakukan pendataan secara profesional pula untuk setiap pemain yang berpartisipasi di dalamnya. Pendataan tersebut bisa dilakukan baik dengan cara manual ataupun dalam jaringan. Hal ini nantinya akan mempermudah pihak-pihak yang memerlukan data pemain sebagai bahan rujukan, kemudahan pemantauan ataupun akses data pemain lainnya.

Adapun sistim kompetisi pada Liga Santri Nusantara (LSN) adalah dengan pola penyisian tiap sub regional adan regional untuk menuju babak Grand Final. Laga pada babak Grand Final merupakan laga tim-tim terbaik yang menjadi jawara di regionalnya masing-masing. Pemberlakuan sistem sub regional ini diserahkan pada pertimbangan panitia kompetisi regional masing-masing.

Hal ini untuk mempermudah kelancaran dengan mempertimbangkan jumlah pesantren, kompleksitas, kondisi dan luas wilayah. Untuk putaran final, sejak pertama kali digelar Liga Santri Nusantara memberlakukan sistim setengah kompetisi untuk menyaring 32 tim terbaik sampai ke babak Grand Final. Perbaikan lainya yang perlu dilakukan sebagai faktor penunjang profesionalisme adalah tentang alokasi waktu pertandingan. Perlu adanya kerapian dan penataan ulang yang lebih efesien. Sehingga tim yang bermain dapat melalukan recovery dengan baik dan cukup waktu.

Baca juga: Aurat, Eco-Soccer dan LSN

Perjalanan Liga Santri Nusantara (LSN) telah menelurkan tim-tim pesantren yang bertalenta. Diawali tahun 2015 pondok pesantren Nurul Islam Jember meraih gelar juara setelah mengalahkan pondok pesantren Al-Asy’ariah Banten. Lalu di tahun 2016 Liga Santri Nusantara (LSN) mendapat kampiun baru dari pesantren asal Sleman yaitu pesantren Nur Iman Mlangi setelah menundukkan pesantren Walisongo Sragen. Tahun berikutnya 2017 pondok pesantren Darul Huda Ponorogo keluar sebagai jawara setelah mengalahkan pondok pesantren Darul Hikmah Cirebon. Dan pada tahun 2018 pemenang baru lahir dari tim pondok pesantren Nurul Khairat Balikpapan keluar sebagai juara setelah menumbangkan perlawanan tim pondok pesantren Nurul Fajri Majalengka.

Liga Santri Nusantara (LSN) terbukti membuat geliat olahraga di kalangan santri dan pesantren makin naik. Santri berusaha mengambil teladan dan spirit kemenangan serta kesuksesan yang terjadi di dalamnya. Seperti teladan Rafli Mursalim pesepakbola muda jebolan Liga Santri Nusantra (LSN) sudah mengisi pos-pos penyerang tim Merah Putih. Dua pemain lainnya jebolan Liga Santri Nusantara (LSN) yang berhasil dipanggil oleh Indra Sjafri untuk seleksi adalah Tri Widodo, seorang pemain terbaik di LSN 2016 dan Richard Rahmad, seorang pemain terbaik di LSN 2015.

Kiprah Liga Santri Nusantara (LSN) lainnya adalah keikutsertaan dan andil para jebolannya dalam mengharumkan nama bangsa Indonesia. Seperti juara Liga Santri Nusantara (LSN) tahun 2015, dimana pesantren Nurul Islam dengan timnya, Nuris United, berhasil menjuarai turnamen Malindo Cup U-18 2016. Sebuah turnamen skala regional yang diselenggarakan di Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa pondok pesantren memiliki prospek pesepakbola yang cukup menjanjikan. Pada dasarnya Liga Santri Nusantara (LSN) hanya membantu untuk mengekspos prospek-prospek tersebut untuk muncul ke publik serta membantu membuka jalan sukses menuju ke tim nasional Indonesia.

Geliat lainnya yang merupakan efek euforia Liga Santri Nusantara (LSN) adalah naiknya tensi dan animo sepak bola di lingkungan pesantren. Atmosfer kompetisi mendorong pondok pesantren melakukan pembenahan dan peningkatan mutu latihan. Dari sisi pembangunan lapangan bisa dikatakan bahwa pondok pesantren cukup mampu dan tidak kalah jauh dengan lapangan klub-klub besar Indonesia. Salah satunya adalah keberadaan stadion Darussalam Gontor. Spesifikasi dan fasilitasnya cukup dan siap untuk menampung event sepak bola skala nasional sekalipun. Dengan luas stadion sebesar 1,8 ha maka diharapkan mampu mengenjot kualitas dan performa tim Gontor.

Stadion megah ini juga dilengkapi dengan dua tribun yang berkapasitas dan berdaya tampung penonton sekitar 2000 orang. Keberadaan stadion tersebut paling tidak telah menunjukkan bahwa Liga Santri Nusantara (LSN) mempunyai andil dalam membangun spirit kompetisi serta menjadi salah satu wadah bagi pembibitan pesepakbola muda yang bertalenta. Oleh karena itu Liga Santri Nusantara (LSN) 2019 harus segera hadir dan bergulir!  

*Penulis adalah anggota kelompok Pecinta Alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan, tinggal di Gersikan Rt.01 Rw.01 No.05 Kelurahan Kedungringin Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan Jawa Timur 67154,
email: konturamontana@gmail.com dan kabutrimbawan@gmail.com

Share ke :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *