oleh

AURAT, ECO-SOCCER DAN LIGA SANTRI NUSANTARA

-Lomba, Santri Gila Bola-1.253 dibaca

AURAT, ECO-SOCCER DAN LIGA SANTRI NUSANTARA
Oleh : Yudho Sasongko

Liga Santri Nusantara (LSN) merupakan wadah kompetisi gahar untuk santri pebola. Peringatan Hari Santri Nasional adalah tonggak bergulirnya Liga Santri Nusantara. Dengan berbekal spirit norma hukum Keppres nomor 22 tahun 2015 milik hari Santri Nasional, maka diharapkan agar Liga Santri Nusantara menjadi kawah candradimuka bagi para talenta untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan kualitas persepakbolaan nasional. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) juga berharap agar Liga Santri Nusantara yang digalang RMI-NU ini menjadi salah satu turnamen yang mampu mencetak pesepakbola gahar di masa depan.

Tahun kick off pertamanya yang tertanggal 3 September 2015 oleh Menpora Imam Nahrawi di Lapangan Srogo, Patebon, Kendal semoga menjadi lanjutan tendangan-tendanagan berkah lainnya. Apalagi dengan melihat jumlah klub dan pondok pesantren di Indonesia, jelas bagi kita bahwa Liga Santri Nusantara mempunyai peluang yang begitu besar sebagai wadah penggodokan bibit-bibit berprestasi masa depan, yang berakhlak mulia tentunya.

“Santri memiliki potensi yang besar masuk dalam kerangka besar sepakbola nasional. Kami mendorong Liga Santri akhirnya menghasilkan bibit-bibit muda, ada lebih banyak Rafli di masa depan. Kami mendorong pesantren jadi salah satu wadah pengembangan potensi pesepakbola Indonesia, kata Asisten Deputi Pengembangan Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Kemenpora, Bayu Rahadian.

Sepakbola merupakan hidangan massal yang tentunya ditonton secara viral juga. Jangkauannya begitu luas. Berjuta-juta mata akan melototi adegan di lapangan baik live, delay ataupun relay. Ekspos publik para pemain dan tingkah lakunya tak dapat dihindari. Begitu pun di Liga Santri Nusantara, diharapkan ekspos semua pemainnya sedapat mungkin untuk menunjukkan karakter, akhlak dan moral seorang santri.

Dan ini sepertinya sudah dibuktikan, sebagai contoh budaya cium tangan wasit. Sebuah sikap positif yang mewakili karakter dan akhlak santri berupa kepercayaan sepenuhnya kepada keputusan, kebijakan dan perintah wasit bak penghormatan terhadap seorang ulil amri atau orang yang memimpin. Sikap cium tangan adalah budaya santri yang kuat mengakar.

Akhlak lainnya adalah bersikap fairplay, manajemen emosi, antichaos, dan menjunjung tinggi sportivitas. Para pemain diharapkan agar tetap tampil sebagai santri dengan karakteristik akhlak mulia di atas. Termasuk urusan kostum klub dan aksesorisnya juga harus diupayakan khas santri, dalam artian sopan, santun dan tentunya menutup aurat.

Aurat yang dimaksud adalah kepantasan tampil di muka publik, dan bukan aurat di dalam sholat. Rata-rata pemain Liga Santri Nusantara sudah melakukan ini walau tidak semua. Mereka menutup paha yang terbuka dengan aksesoris yang umum dan diijinkan serta tidak membahayakan pemain pada umumnya seperti manset[1] dari bahan spandex[2] yang sudah cukup layak sebagai penutup agar tampil dalam kepantasan akhlak santri di muka publik dan segala efek eksposnya.

Dan juga perlu digarisbawahi bahwa aurat yang terbuka tidak bisa dijadikan dasar dalam pengharaman sepakbola. Aurat pemain sepakbola bisa ditutupi dengan segala modifikasi yang memungkinkan. Pemilihan bahan juga tak kalah pentingnya agar pola modifikasi penutupan aurat tersebut tidak malah membebani dan menghalangi pergerakan pemain.

Hal menarik lainnya yang bisa diambil pelajaran adalah tentang eco-soccer atau sepakbola yang berwawasan lingkungan hidup dan ramah lingkungan. Ini juga termasuk dalam kawasan akhlak seorang santri. Berupaya sekuat mungkin memakai produk-produk ramah lingkungan untuk keperluan klub dan pemain di lapangan. Sebagai contoh model eco-soccer adalah Forest Green Rovers FC, klub yang pernah mencatatkan dirinya dalam sejarah di Liga Inggris yang eco-friendly[3].

Baca juga; Pesantren, Sepakbola dan Kehidupan

Merekamempopulerkan teknologi green energy, gaya hidup ramah lingkungan serta  berwawasan lingkungan hidup yang tinggi kepada banyak pecinta sepakbola di dunia. Dengan konsep eco-soccer maka secara karakter telah mempraktekkan apa yang disebut-sebut sebagai salah satu amanat santri, yaitu peduli terhadap lingkungan hidup. Tak kalah pentingnya kampanya eco-soccer ini kepada semua komponen persepakbolaan, termasuk kepada para suporter yang sering mendapat sorotan dalam dunia persepakbolaan.

Eco-soccer harus dipopulerkan dan diberlakukan bagi suporter dan penonton. Mereka adalah bagian terbesar dalam jumlah pada sebuah populasi dunia persepakbolaan. Suporter dan penonton diberikan pengertian tentang arti kebersihan, tidak boleh membuang sampah sembarangan, termasuk lempar botol dan sejenisnya ke lapangan.

Dengan kesadaran buang sampah pada tempatnya, maka aksi vandalisme, aksi sarkasme dan aksi anarkis seperti di atas bisa dihindari sedini mungkin dengan aplikasi eco-soccer. Menghindari penggunaan flare[4] oleh suporter dan penonton adalah contoh nyata praktek eco-soccer dalam mengurangi pemanasan global dan polusi udara.

Pengurangan penggunaan bahan-bahan baliho dan aksesoris suporter, penonton dan manajerial yang berbahan sterofoam juga salah satu bentuk praktek eco-soccer. Kita tahu bahwa sterofoam susah sekali terurai. Penggunaan tabung-tabung gas untuk terompet suporter sedini mungkin dihindari, karena itu adalah polutan yang akan membuat keropos atmosfer serta polusi udara lainnya. Alternatifnya bisa pakai terompet pompa (Air Horn Pump) yang tidak perlu ditiup atau pakai gas polutan. LSN harus benar-benar ramah lingkungan, serta mampu menularkan hal di atas kepada liga-liga lainnya.

Liga Santri Nusantara bukan hanya sekedar turnamen biasa, namun lebih kepada sebuah pergelaran dan proyeksi kehidupan pesantren di masyarakat. Sebuah tanggung jawab yang tak ringan ketika santri dihadapkan kenyataan bahwa sepakbola adalah salah satu bentuk olah raga populer yang bersifat massal, penuh dengan interaksi sosial.

Dimana di dalamnya bisa saja penuh dengan hal-hal yang bersifat negatif dan merugikan jika tidak mampu menghindari dan membendungnya. Salah satu diantaranya adalah perjudian, maksiat ini erat dan kuat hubungannnya dengan persepakbolaan. Santri dituntut untuk memberikan teladan anti perjudian kepada dunia sepakbola. Kedua tentang suap, pastikan ini tidak terjangkit di tubuh LSN baik dari pihak manajerial ataupun pihak pemainnya. Jangan sampai usaha untuk menyehatkan badan malah merusak akhlak. Tetaplah terus berpegang pada prinsip bahwa di balik badan yang sehat dan kuat, terdapat jiwa yang sehat, akhlak yang luhur dan moral yang tangguh.

Akhlak dan budi pekerti harus tetap berada di urutan teratas, harus mengalahkan nafsu pencapain peringkat klasemen ataupun sekedar nafsu menjunjung piala liga dengan mengorbankan akhlak mulia. Dengan begitu LSN diharapkan akan muncul sebagi aplikasi pendidikan karakter yang sangat efektif dan mempunyai nilai dakwah yang tingg dan meluas. Sebuah kompetisi yang di dalamnya penuh dengan semangat berlomba-lomba dalam mencapai dan mengerjakan kebaikan.

Yudho Sasongko, Anggota Kelompok Pecinta Alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan, Email konturamontana@gmail.com dan kabutrimbawan@gmail.com Gersikan Rt.01 Rw.01 No. 05 Kelurahan Kedungringin Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan Jawa Timur 67154.


[1] Kain atau aksesoris tambahan sebagai penutup atau penyambung
[2] Jenis bahan manset yang paling banyak dipakai
[3] Ramah lingkungan
[4] Suar

Share ke :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *